Resi Gudang Gabah Tak Diminati

by Mahasiswa Jatim

TUMPANG – Fasilitas resi gudang untuk petani padi di Kabupaten Malang belum banyak dimanfaatkan. Hingga saat ini, tak lebih dari 250 ton gabah yang dititipkan di resi gudang di Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang. Padahal, resi gudang yang resmi dioperasionalkan tahun lalu itu, memiliki kapasitas 2 ribu ton.

Selain daya tampungnya yang masih terbuka luas, harga gabah juga terus merosot, hingga di bawah Rp 4 ribu per kilogramnya. Sementara, dengan penyimpanan SRG (sistem resi gudang), harga gabah dipatok sebesar Rp 5 ribu per kilogramnya.

Hatta Zakaria, Ketua Koperasi Mitra Usaha, pengelola Resi Gudang mengakui minimnya petani yang memanfaatkan resi gudang. Padahal, dengan menitipkan hasil panennya di resi gudang, harga yang didapat oleh petani terhitung cukup tinggi. ”Memang tidak semuanya bisa cair, hanya 70 persennya. Sisa 30 persennya nanti bisa diambil saat harga gabah sudah kembali tinggi,” kata Hatta, siang kemarin.

Hatta mengakui, momentum panen raya yang saat ini sedang terjadi di sejumlah wilayah seharusnya bisa dimanfaatkan oleh petani untuk menyimpan gabahnya di resi gudang. Sebab, saat ini harga gabah di pasaran tengah anjlok.

Di saat harga sedang anjlok dan petani yang sedang membutuhkan uang, maka seharusnya petani memanfaatkan SRG itu. Namun, hingga saat ini, belum banyak petani yang memanfaatkannya.

Dia menduga masih banyak petani yang belum mengetahui SRG di Tumpang. Karena itu juga, dia berupaya menggalakkan sosialisasi pemanfaatan SRG kepada petani maupun gapoktan (gabungan kelompok tani) yang ada di Kabupaten Malang.

Saat ini, sebaran pemanfaatan SRG oleh kelompok tani masih belum banyak. Sebagian masih dari wilayah Tumpang dan Kepanjen. Padahal, masih banyak wilayah penghasil tanaman padi. Di antaranya dari Pakisaji, Karangploso, dan beberapa daerah lainnya.

Bangunan resi gudang yang dibangun menggunakan DAK (dana alokasi khusus) pada anggaran 2012 itu, menghabiskan anggaran sebesar Rp 5 miliar. Di gudang itu, tersedia sejumlah fasilitas, di antaranya ruang penyimpanan dan alat pengering.

Terkait dengan pemanfaatan mesin pengering, Hatta mengatakan, telah dilakukan peralihan bahan baku. Jika sebelumnya bahan bakunya dari sekam, saat ini dialihkan dengan gas LPG. Hal itu dikarenakan penggunaan sekam mengganggu lingkungan sekitar. ”Penggunaan mesin pengering hanya pada musim hujan,” kata dia. (yak/c1/lid)

Radar Malang berdiri di bawah naungan usaha PT Malang Intermedia Pers dan terdiri dari tiga divisi kerja, yakni: Divisi Redaksi, Divisi Iklan dan Divisi Pemasaran Koran. Di luar divisi tersebut, Radar Malang telah memiliki tim event organizer (EO) yang menggarap beragam kegiatan off print Radar Malang yang bekerja sama dengan mitra kerja.

View the original article here

Share this article

Leave a comment