Prof Dr Wahyudi Siswanto MPd, Guru Besar UM Pendiri Sekolah Alam di Kepanjen

by Mahasiswa Jatim

Konsep sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al Ikhlas di Desa Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang ini cukup unik. Meski sekolah formal, tapi dikemas layaknya sekolah yang akrab dengan alam. Adalah  Prof Dr Wahyudi Siswanto MPd di balik berdirinya sekolah itu.

***

Tak sulit menemukan lokasi MI Al Ikhlas di Sengguruh, Kepanjen ini. Meski harus melewati gang sempit yang hanya bisa dilewati satu motor, tapi hampir semua warga di desa itu mengetahuinya. Maklum, sekolah ini memang cukup kondang karena keunikannya.

Bangunan sekolah alam ini sangatlah berbeda dengan bangunan sekolah pada umumnya. Bagaimana tidak, tujuh kelas di tempat tersebut menyerupai gazebo yang besarnya sekitar 5×6 meter persegi.

Yang membuat suasana alam semakin kentara, dinding ruang kelas itu bukanlah dari tembok, melainkan dari anyaman bambu yang ditata renggang. Bambu itu dipadukan dengan pohon kelapa (glugu). Memasuki kelas bergazebo itu, semilir angin masuk dari celah anyaman bambu. Suara jangkrik juga sahut-menyahut, membuat kita lupa kalau sedang berada di dalam ruang sekolah formal.

sekolah-alam-kepanjenSuasana ini terjadi setiap hari, karena sekolah alam milik guru besar Sastra Indonesia UM ini berada di pinggir sawah. Di sebelah utara dan barat ada pohon tebu, sedangkan di bagian selatan dan timur terdapat hamparan padi. ”Ya namanya saja sekolah alam, harus dekat dengan alam,” kata Wahyudi membuka pembicaraan.

Sekolah yang saat ini memiliki 103 siswa itu sebenarnya sudah berdiri sejak 2008 silam. Hanya saja, sejak berdiri hingga akhir 2013, karena belum mempunyai gedung permanen, MI Al Ikhlas numpang di TPQ Majmal Murotilil yang berada di Jalan Krajan, Sengguruh.

Nah, baru Januari 2014 lalu, MI Al Ikhlas benar-benar menjadi sekolah alam. Selain kelasnya dari gazebo, di depan sekolah tersebut juga terdapat taman yang terdapat sejumlah tanaman seperti tomat, sirsak, kamboja, terembesi, terong, dan lain sebagainya.

Wahyudi menjelaskan, sekolah yang dia dirikan itu dari awal memang didesain berbeda dengan sekolah pada umumnya. Ini karena Wahyudi menganggap kalau saat ini sekolah sulit membuat murid-muridnya ceria. Dengan sekolah yang penuh alam ini, diharapkan siswa-siswanya penuh dengan keceriaan. ”Karena saya menilai, selama ini sekolah sudah menjadi penjara, semuanya tegang. Kalau sekolah alam ini kan bisa lebih rileks,” imbuh pria tiga orang anak tersebut.

Tidak hanya itu, banyak alasan menurut Wahyudi sebelum dirinya memutuskan untuk mendirikan sekolah alam itu. Menurutnya, berdasarkan penelitian yang pernah dia baca, seseorang yang sering bergaul dengan alam mempunyai kreatifitas lebih dari orang lain yang tidak pernah bersinggungan dengan alam. ”Ada penelitian kalau karyawan yang duduknya di samping jendela, lebih kreatif dari yang tidak. Oleh karenanya, kita dirikan sekolah ini,” papar suami dari Wiwik Indiastuti Wulandari itu.

Dengan adanya sekolah alam ini, para guru di sekolah tersebut lebih mudah dalam mempraktikkan pelajaran yang didapat para siswanya. Salah satu program yang ada di sekolah tersebut adalah program menyemai kehidupan.

Disebut program menyemai kehidupan, karena para siswa diajak bersama-sama memakan buah-buahan tertentu. Nah, setelah makan, biji dari buah-buahan itu lantas ditanam bersama di taman yang berada di depan sekolah. ”Dengan begitu, siswa kan sadar kalau memakan buah-buahan memang mudah, tapi menanamnya butuh proses bertahun-tahun,” papar pria yang sudah mempunyai 30 karya buku tersebut.

Dengan adanya sistem program menyemai kehidupan ini, Wahyudi juga hendak mengajarkan siswanya untuk terbiasa memberi, bukan meminta. Ini karena, kelak buah-buahan dan sayuran yang ditanam di depan sekolah, bakal diberikan ke orang kampung. Karena itu, semua siswanya wajib mengikuti program menanam. ”Kalau biasanya sekolah mengharap pemberian masyarakat, kita balik, kita yang akan memberi,” jelas pria yang menempuh program strata satu hingga doktoral di UM ini.

Bagi Wahyudi, untuk membesarkan sekolah alam tersebut memang dibutuhkan ketelatenan. Apalagi, dari awal, sekolah tersebut diniatkan untuk tidak profit. Oleh karenanya, SPP di sekolah itu hanyalah Rp 20 ribu tiap bulan. Tentu saja, untuk operasional dan membayar gaji 18 guru tidak lah cukup. ”Kita ingin membalik keadaan. Jika sekolah berkualitas biayanya mahal, kita ingin menyediakan sekolah yang murah,” imbuhnya.

Tentu saja, karena murahnya, guru-guru di sekolah tersebut tidaklah bergaji besar. Gaji guru di sekolah itu rata-rata cuma Rp 200 ribu setiap bulan. ”Tapi tidak tahu selalu cukup. Keikhlasan mereka luar biasa,” jelasnya. ”Kita beli tanah dan bangunan sekolah alam ini juga patungan guru dan orang tua siswa,” imbuhnya.

Ternyata, konsep sekolah alam yang didirikan Wahyudi mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Sudah banyak studi banding dari lembaga pendidikan berbagai daerah seperti Bali, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai daerah lain. Kebanyakan, yang studi banding itu adalah mahasiswa Wahyudi di UM dari berbagai daerah yang sudah menjadi guru. ”Dan mereka menunjukkan ketertarikannya,” katanya.

Saat ada orang studi banding ini, Wahyudi mengaku tidak akan menyembunyikan ilmu tentang sekolah alam. ”Semakin banyak sekolah seperti ini, bagus. Kalau perlu, se-Indonesia ada sekolah seperti ini,” katanya. ”Karena kita tidak ingin melihat siswa yang pintar-pintar tapi tidak peka terhadap alam dan sosial sekitar,” pungkasnya.(riq/c1/abm)

IRHAM THORIQ

Radar Malang berdiri di bawah naungan usaha PT Malang Intermedia Pers dan terdiri dari tiga divisi kerja, yakni: Divisi Redaksi, Divisi Iklan dan Divisi Pemasaran Koran. Di luar divisi tersebut, Radar Malang telah memiliki tim event organizer (EO) yang menggarap beragam kegiatan off print Radar Malang yang bekerja sama dengan mitra kerja.

View the original article here

Share this article

Leave a comment