Apalagi yang jadi perdebatan?

by Mahasiswa Jatim

Oleh Adhitya Tri A. [@AdhityaTri20]
Saat ibu megawati membacakan deklarasi calon presiden darii PDIP, aku sedikit terhenyak. Bukan, bukan karena ibu mega keturunan proklamator negeri ini, tapi karena yang dideklarasikan adalah publik figur yang tiba-tiba menjadi trending topic di  twitter. Entah kapan trending topic itu terjadi. Yang pasti namanya bapak joko widodo.Pertanyaan selanjutnya, mengapa aku sampai terhenyak? Bukankah ini sama saja situasinya seperti ketika SBY ditahun 2004 lalu? Memang sama, situasi pesta demokrasi. Tapi yang menjadi pembeda, yang membuat aku sampai terhenyak seperti itu adalah seorang jokowi adalah orang nomor satu di jakarta. Apakah SBY ketika di tahun 2004 juga orang nomor satu di ibukota negara ini? Tidak. Maka dari itu aku biasa saja.

Pencalonan presiden jokowi dari parpol PDIP sebenarnya sudah di prediksi jauh-jauh hari oleh segala pihak, mungkin termasuk mario teguh. Tapi, semua itu hanyalah perkiraan, hanyalah menduga duga semata. Kenyataan? Tidak sama sekali. Yang menjadi pertanyaan, apakah jokowi bisa memegang negeri sebesar indonesia? Kalau cuma memegang inggris dengan dedengkotnya saja itu hanyalah sekumpulan pulau kecil. Gampang. Tapi indonesia? Bagaimana?

Berbicara track record kinerja seorang jokowi. Siapa yang meragukan beliau? Pejabat dengan gaji tinggi mampu merapikan sekaligus memajukan kota kecil di jawa tengah. Mampu dan mau berenang di genangan air bah di dataran luas seluas jakarta. Meskipun tak semuanya di jamahnya. Tapi dari situlah kinerja seorang pemimpin bernama Jokowi dapat dinilai. Ketika korupsi melanda dimana mana, ketika orang-orang di atas sana sibuk mengurus usaha pribadinya, usaha membuncitkan rekeningnya, jokowi justru sibuk dan bahkan ruwet dengan rakyat di bantaran sungai ciliwung. Tak ada yang meragukan kinerjanya. Meskipun, banjir dan macetnya jakarta belum juga teratasi layaknya Teheran yang dulunya macet sekarang lancar tanpa hambatan. Meskipun itu aku pun tak pernah melihat langsung lalu lintas di Teheran.

Masalahnya, pencalonan jokowi sebagai presiden RI tahun 2014-2019 ini dalam situasi dimana beliau tengah membangun ibu kota negara yang ruwetnya tak kalah dari “kapal pecah”. Menjadi lebih rumit lagi, jabatan sebagau gubernur DKI jakarta juga masih begitu anget-angetnya. Masih berumur kurang lebih 20 bulan saja. Disini masalah intinya dari pencalonan presiden  jokowi. Beliau, sebagai orang nomor satu di jakarta. Dengan segelintir masalah yang ada di jakarta. Dan masih ditambah beban jabatan dalam hal waktu. Yang akhirnya muncul adalah tanggapan-tanggapan negatif dari pihak-pihak tertentu. Entah dikatakan sebagai penghianat, atau mungkin lari dari tanggung jawab.

Selanjutnya, pemilu presiden yang diadakan setelah pemilu legislatif, pemilu presiden dapat mengacu pada hasil pemilu legislatif. Meskipun secara kasat mata, jelas berbeda sistematikanya. Orang KPU jelas lebih paham. Ya, dari hasil pemilu legislatif tanggal 9 april lalu PDIP berada di puncak klasemen duduk manis seperti juventus di klasemen seri A italia. Tanpa tergoyahkan. Hampir mirip dengan kejayaan parpol berwarna biru itu di pemilu sebelumnya. Dari sini, perdebatan panjang pun datang. Apa yang di perdebatkan? Bukan, bukan masalah korupsi lagi. Bukan juga masalah lapindo yang ditelan lumpurnya. Tapi yang diperdebatkan adalah, siapa yang menjadi cawapres dari jokowi? Ini ciri khas dari Indonesia mulai muncul. Suka yang ruwet. Tapi inilah yang menurut aku semakin menarik. Aku berkata ruwet karena satu alasam saja. Bukankah dari kemenangan PDIP di pileg lalu sudah bisa menjadi acuan? Apakah masih penting berdebat siapa yang menjadi pacarnya bapak jokowi nanti? Toh (mungkin) nanti kerjanya tidak akan jauh dari peresmian tempat-tempat mewah di negeri ini, bukan? Tapi aku tidak munafik, itulah politik, sangat menarik, bahkan seru.

Kesimpulannya, di tahun 2014 ini Indonesia tidak akan diam. Akan sibuk dengan pesta demokrasi 2014 dan pesta piala dunia 2014  di brazil.

Share this article

Leave a comment