Pria Tua, Langit Malam dan Tanah Taman Kota

by Mahasiswa Jatim

pak-tua

[@Syndi_NS] Kembali aku bertemu dengan malam. Langit hitam yang sama, kerlipan bintang-bintang yang sama dan hembusan dingin yang seperti biasanya aku rasakan. Tapi malam ini terasa berbeda, bukan suasananya akan tetapi tentang corak yang diberikannya malam ini. Malam ini aku bertemu dengan seorang pria yang duduk sendiri di kursi taman kota itu. Seperti biasa, aku datang ke taman kota untuk sekedar melihat aktivitas malam muda-mudi yang ada, atau melihat canda tawa anak kecil bersama orang tua mereka. Bagiku kehidupan bukan hanya tentang aku dan sekitarku saja, akan tetapi masih banyak kehidupan yang bukan tentang aku dan bahkan lebih indah dari kehidupanku dan sekitarku.

Tiba-tiba aku melihat sosok seorang pria yang menyita banyak perhatian mataku. Pria itu duduk termenung di kursi taman kota, menerawang kosong ke arah lampu-lampu jalanan dan cahaya benderang gedung-gedung tinggi perkotaan. Aku memperhatikan gerak-gerik pria itu, kadang dia melemparkan senyum ke langit, kadang juga dia menunduk ke bawah sambil mengayun-ayunkan sepasang kakinya. Aku mencoba mendekat dan duduk di sebelahnya, aku sengaja memang ingin mendekatinya, ingin mengetahui kenapa dia begitu tersenyum menatap langit malam dan seketika juga gontai menunduk ke sebuah tanah di bawahnya.

Tiba-tiba dia menyapa terlebih dahulu.
“Sendirian saja mas?” Katanya pelan kepadaku.
“Iya, pak.. Bapaknya juga sendirian aja..” Kataku mencoba akrab dengannya.
“Iya mas. Saya Toni, Mas siapa namanya?” Katanya kembali sambil menyodorkan tangan kanannya kepadaku.
“Rino pak,” Kataku pelan sambil menjabat tangan kanannya yang terlihat sudah semakin hitam termakan usia.

Angin menghembus perlahan, membuat suasana malam ini semakin dingin saja. Cahaya lampu yang seakan redup tapi masih bisa digunakan sebagai penunjuk jalan bagi orang-orang yang berjalan di jalan taman itu, dan seakan mengisyaratkan bahwa angin tak salah arah. Semuanya semakin merasakan keheningan kala nuasa itu tercampur dalam saling terdiamnya kami di kursi taman itu. Kemudian pria tua itu melakukan hal yang sama lagi, Menatap langit malam dan tersenyum, dan seketika itu juga menunduk gontai menatap tanah di bawahnya. Aku semakin penasaran dan memberanikan diri untuk menanyakannya.

“Maaf bapak, kenapa bapak tersenyum saat menatap langit namun seketika itu juga terlihat lemas saat menatap tanah?” Kataku lirih dan agak sedikit nada keraguan.
Bapak itu menoleh kepadaku dan kemudian tersenyum, “Kamu lihat mas bintang-bintang di langit malam sana?” Katanya kepadaku sambil menengadahkan kepalanya.
“Iya pak saya lihat, terus memangnya kenapa dan apa maksudnya?” Tanyaku kembali, sekarang dengan nada agak penasaran.
“Iya karena itulah saya tersenyum saat menatap ke atas mas. Bintang-bintang di langit malam itu selalu melukiskan wajah anak-anak dan istri saya. Selalu dan selalu membuat saya tersenyum akan senyuman yang dilihatkan oleh letak-letak bintang itu. Bintang-bintang itu adalah anak-anak dan istri saya mas, makanya saya tersenyum saat menatap ke atas.” Katanya mencoba menjelaskannya kepadaku
“Lalu, kenapa bapak terlihat lesu saat menatap ke tanah?” Tanyaku semakin membuat penasaran atas jawabannya yang tadi.

Pria itu menghela nafas panjang sesaat, kemudian menjawab pertanyaan yang aku ajukan kepadanya, “Karena tanah yang memisahkan saya dengan anak-anak dan istri saya mas. Karena tanah ini kami saling tersekat jarak, karena tanah ini saya hanya bisa duduk di taman kota sendirian, dan karena tanah ini juga yang membawa anak-anak dan istri saya menjadi bintang-bintang di langit malam sana.”

Deggg… Aku terdiam sesaat, dan kemudian memikirkan kata-kata dari pria tua itu. Apa mungkin anak-anak dan istri pria tua ini berada jauh dari dirinya atau mungkin bisa jadi sudah terkubur bersama tanah? Sebelum aku menanyakan kejelasan kata-katanya, pria itu melanjutkan perkataannya.

“Ya mas, saya mengerti apa yang anda pikirkan. Anak-anak dan istri saya sudah meninggal 1 tahun yang lalu. Di kursi taman kota inilah, kami sekeluarga sering menghabiskan waktu bersama saat malam hari seperti ini. Tidak ada satu menitpun dalam waktu yang kami tidak lewatkan dengan canda tawa kami sendiri.” Katanya sambil menghelas nafas panjang kembali untuk sesaat.

“Maaf pak, bukannya saya ingin membuat bapak bersedih.. Saya sungg…” Sebelum aku melanjutkan permintaan maaf dan belasungkawaku, pria itu kembali melanjutkan perkataannya sambil tersenyum.

“Sudahlah mas, tidak apa-apa. Memang itu yang aku doakan setiap malam untuk istri dan anak-anakku.” Aku tersontak dan shock mendengar kata-katanya ini, apakah pria ini menginginkan anak-anak dan istrinya untuk meninggal dunia, tapi kenapa dia sangat terlihat begitu mencintai keluarganya. “Maksud bapak?” Tanyaku kemudian.

“Iya mas, aku berdoa, semoga Tuhanku memuliakan istri dan anak-anakku dengan cintanya. Mungkin inilah cinta Tuhan kepada keluargaku mas, Bentuk kemuliaan Tuhan juga kepada keluargaku. Dengan kecintaannya, Tuhan mengambil nyawa mereka karena jiwa-jiwa mereka sudah rindu untuk bertemu Tuhannya kembali. Dan kemuliaan yang paling mulia mana lagi kalau bukan bisa berada di sisi Tuhan Sang Maha Cinta.”

Kemudian dengan muka tersenyumnya dia menoleh kepadaku dan menatapku dengan tajam, “Itulah mas, kenapa aku tersenyum saat menatap langit dan terlihat gontai saat menatap tanah. Aku tersenyum karena mereka disana sudah bahagia dengan kecintaan dan kemuliaan Tuhan, sedangkan kesedihanku saat menatap tanah adalah bentuk pertanyaanku, kapan aku terkubur bersama tanah dan bisa menjadi bintang seperti mereka, bahkan bisa diberi kemuliaan dan kecintaan di sisi Tuhannya. Jiwa ini juga sudah rindu ingin bertemu Tuhannya.”

Aku hanya terdiam dan terpaku mendengar pernyataan dari pria tua ini, entah kenapa tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutku. Rasanya aku bukan di taman lagi, tapi aku sudah terbawa hembusan angin sampai ke kutub dan membekukan semua gerak, pikiran dan juga hatiku. Semuanya beku, dingin dan tak bisa digerakkan. Aku hanya bisa mengalihkan mukaku dari pria itu dan kembali menatap cahaya gedung kota ini. Dan sedikit menengadah ke langit malam dengan sedikit berkata terbalut doa, “Bisakah aku menjadi seorang pencinta seperti pria di sampingku ini.? Dia pecinta sejati menurutku, semoga Tuhan menjawab pertanyaannya dengan Kehendak Maha Bijaksananya.” Kataku dalam hati sambil tersenyum menatap langit malam.

Share this article

Leave a comment